Kisah Penuh Hikmah Pentingnya Waktu & Cinta

IQROZEN | Kisah Penuh Hikmah Pentingnya Waktu dan Cinta. Sebuah karya sederhana seorang santri yang patut menjadi bahasan dalam manajemen waktu, serta dalam retorika arti cinta. Tulisan ini sudah mengalami sedikit gubahan dari bentuk aslinya namun tidak meninggalkan orisinalitas dan identitas sang Penulis. Apabila terdapat kesamaan dalam apapun bentuknya, mohon menjadikan maklum karena postingan kali ini merupakan kiriman. Bagi yang ingin membaca kisah menarik lainnya, silakan kunjungi Indahnya Malam Pertama Tanpa Rembulan.

Akisah…
   Di sebuah pulau kecil, tinggallah berbagai macam manusia abstrak, mereka adalah Cinta, Kesedihan, Kegembiraan, Kekayaan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan antara satu dengan yang lain dalam suasana bahagia dan tentram. Namun suatu ketika, datanglah badai besar menghempas pualu kecil itu. Seketika itu pula, air laut pun naik dan seakan-akan hendak menenggelamkan pulau beserta isinya.
   Semua penghuni pulau kocar-kacir berusaha menyelamatkn diri masing-masing. Cinta sangat kebingungan, sebab dia tidak bisa berenang dan juga tidak mempunyai perahu atau barang yang bisa menyelamatkan dirinyaa. Cinta berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan, sementara air laut terus semakin naik membasahi kaki Cinta.
   Tak lama kemudian Cinta melihat Kekayaan yang sedang mendayung perahunya, “Kekayaan… Kekayaan… Kekayaan, tolong aku!” Teriak Cinta meminta tolong. “Aduuuh… Maaf Cinta, perahuku sudah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu karena takut perahuku tenggelam akibat kelebihan muatan. Lagi pula, tidak  ada tempat di perahu ini yang cocok bagimu.” Kata si Kekayaan sembara mendayung perahunya pergi.
   Cinta pun sedih sekali, ternyata Kekayaan tidak sudi menolong dirinya. Tidak lama kemudian, Cinta melihat Kegembiraan melintas terburu-buru dengan perahu barunya, Cinta pun berteriak, “Hai… Kegembiraan… Tolong aku! Aku sendirian.” Sayangnya, saking  gembiranya karena mendapatkan perahu, si Kegembiraan tidak dapat mendengarkan teriakan Cinta yang berulang kali meminta pertolongannya.
   Air laut terus dan semakin naik menenggelamkan separuh tubuh Cinta, volumenya meninggi hingga sampai pingang Cinta. Saat itulah si Kecantikan lewat dengan perahu indahnya, “Kecantikan... Kecantikan… Kecantikan… Tolong aku, bawalah aku bersamamu!” Pinta Cinta dengan nada sedikit memelas minta tolong.
“Wah maaf, kamu basah dan kotor. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahuku yang indah dan bersih ini kotor olehmu!” Jawab si Kecantikan. Cinta kian sedih mendengar jawaban Kecantikan tersebut. Ia pun menangis terisak-isak sendirian, tiada siapa-siapa lagi di sekelilingnya.
   Beberapa waktu kemudian, Kesedihan melintas dihadapannya dengan wajah yang memperihatinkan. Dengan sisa suara dan tenaga Cinta kembali berteriak, “Oooh… Kesedihan, bawalah aku bersamamu!”. Lagi-lagi jawaban serupa diterima Cinta. “Maaf Cinta, aku sedang sedih. Aku hanya ingin sendirian.” Ujar Kesedihan sambil terus berlalu meninggalkan Cinta.
   Sedangkan Cinta kini berputus asa, tiada lagi harapan hidup terlintas di benaknya. Terasa olehnya air laut semakin naik dan menenggelamkan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara, “Cinta, kemarilah. Naiklah keperahuku ini.” Cinta pun menoleh ke arah suara itu. Tampak olehnya sosok tua renta dengan perahunya yang sudah tua juga. Dengan bergegas Cinta langsung naik ke perahu tersebut, sebelum air laut menenggelamkan seluruh tubuhnya.
   Sesampainya di pulau terdekat, sosok misterius itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi tanpa sepatah kata yang disampaikan. Pada saat itulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengenal orang tua renta itu. Cinta kemudian menanyakan kepada seseorang yang ada di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. “Orang tua itu adalah Waktu.” Kata seorang pribumi di pulau itu. “Tetapi, kenapa ia menolongku? Aku tidak mengenalnya pun sebaliknya. Bahkan teman-teman yang mengenalku saja enggan menolong ku?” Tanya Cinta penasaran. Seorang pribumi tadi tersenyum, kemudian berkata: “Hanya Waktulah yang mengetahui berapa sesungguhnya nilai sebuah Cinta.”


Sungguh jelas bahwa waktu merupakan sesuatu yang dapat menentukan selamat atau celakanya kita di hari kemudian. Bagaimana pun nasib kita kelak, sangat bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada dalam kehidupan ini. Orang yang selamat adalah orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dengan penuh cinta dan harapan akan keselamatannya di masa yang akan datang. Sebaliknya, orang yang celaka adalah mereka yang tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan menyia-nyiakannya hanya karena kesedihan, kegembiraan, kekayaan dan lainnya yang bersifat sementara saja.

Perjalanan hidup kita ini sangat singkat, maka semaksimal mungkin kita harus mampu memanfaatkan waktu dengan bijak dalam perjalanan hidup ini. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis telah menjelaskan, dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata: “Rasulullah pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, ”Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata, ”Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi hari dan jika engkau berada pada pagi hari jangan menunggu datangnya sore hari. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari).

Dari hadis tersebut, hikmah yang terkandung di dalamnya adalah peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia semisal kekayaan, masa muda, umur dan sebagainya. Dan langkah bijak untuk menempatkan diri sebagai seorang musafir sama halnya menyadari bahwa kita hidup di dunia hanya sementara saja, maka tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan.

Sebagaimana manusia pertama, yakni nabi Adam as. yang dulunya memulai kehidupan di Surga. Kemudian oleh Allah, nabi Adam ditemani istrinya, Hawa, diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan bagi keimanan mereka. Ini artinya manusia di bumi seperti halnya orang asing atau musafir yang sedang berada di suatu tempat dalam kurun waktu yang terbatas. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela, kita tetap akan meninggalkan gemerlap dunia ini menuju alam keabadian, akhirat.

Demikian bahan renungan yang mungkin sering terabaikan ketika seseorang sudah terjebak dalam rutinitas hidup. Mereka tidak sadar bahwa masih banyak hal yang dapat dilakukan demi memaksimalkan ruang waktu yang telah Allah sediakan kepada manusia. Dan sebagai seorang Muslim yang bijak harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan di dunia fana ini, untuk meraih tempat terbaik di Surga kelak. Mudah-mudahan tulisan kecil ini dapat memberikan inspirasi bahwa betapa pentingnya waktu demi menghidupkan cinta dalam diri setiap umat manusia***

(By : AFIFA LOPA, https://plus.google.com/113948474308606265628/posts)
Siti Lopa Mahasiswa STKIP Hidayatullah Batam
Penulis artikel ini