Sepenggal Kisah Dari Serambi Mekah

IQROZEN |  Setiap manusia tentu memiliki kisah menarik dalam perjalanan hidupnya di muka bumi ini. Ada yang berupa pengalaman sedih dan ada yang gembira, namun semuanya tentu sangat bermakna untuk mendewasakan kepribadian seseorang. Pada kesempatan ini, saya memposting cerita dari seseroang yang menjadi saksi hidup peristiwa TSUNAMI di Serambi Mekah pada 26 Desember 2004. Berikut jalan cerita sebagaimana yang disampaikannya.
Pagi itu, aktivitas para santri Pondok Pesantren Hidayatullah desa Nusa, kecamatan Lhoknga, Banda Aceh, NAD berjalan seperti hari-hari biasanya. Sembari menikmati menu sarapan, aku terus bercengkrama dengan teman-teman, senang-ceria begitu menghiasi raut wajah kami. Mungkin inilah cara kami menyembunyikan kerinduan terhadap Ayah-Bunda dan saudara lainnya yang jauh di sana, kami di sini untuk menuntut ilmu demi cita-cita mulia. Tiba-tiba salah seorang temanku berteriak, “ Gempa,,, gempa! Ada gempa!” Aku tidak menghiraukan teriakan itu dan kulihat teman lainnya pun demikian. Kami tetap asyik dengan perbincangan masing-masing dan terlena oleh nikmatnya menu sarapan pagi ala santri.
Usai sarapan, kami melanjutkan rutinitas pekanan bagi santri dan warga pondok lainnya, yakni kerja bakti bersama. Dan kali ini, agenda kerja bakti sebagaimana yang disampaikan oleh pimpinan pondok adalah merenovasi ruang makan kondisi bangunannya sudah mulai reot dimakan usia. Aku bertugas mengangkat balok dan triplek bekas dari ruang makan tersebut dan mengumpulkannya ke dapur umum untuk dijadikan kayu bakar.
Sedang asyik-asyiknya menikmati kebersamaan bersama teman-teman dan para ustadz, tiba-tiba bumi bergoyang dengan sangat  kuatnya. Aku yang pada saat itu sedang mengangkat balok-balok bekas, spontan melempar balok tersebut dan lari menuju tempat di mana teman-teman dan para ustadz berkumpul dan saling berpegangan. Gempa tak kunjung henti bahkan semakin kuat, air di dalam kolam ikan pun seakan-akan berontak ingin menumpahkan seluruh isinya. Rasa cemas sekaligus takut menghantuiku, karena seumur hidup baru kurasakan gempa yang dahsyat seperti ini.
Setelah gempa berhenti kami melanjutkan kerja bakti yang sempat tertunda, aku pun melanjutkan tugas untuk mengangkat balok-balok bekas, sambil merenungi apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Ada apa gerangan dengan bumi ini? Apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini? Aku masih terus bertanya-tanya dalam benakku, sementara teman yang lain bagaikan komentator profesional yang saling mengomentari argumen tentang dahsyatnya gempa kali ini.
 Tidak lama kemudian, kami semua mendengar suara gemuruh yang mendekat dan semakin jelas suaranya. Tanpa dikomando, kami pun naik ke atas masjid yang posisi bangunannya lebih tinggi dari yang lainnya, dengan harapan dapat melihat sekeliling. Sayangnya, kami tidak dapat melihat apa pun selain dedaunan pohon yang tumbuh lebat di sekitar masjid. Ustadz Usman Mamang (Pimpinan Pondok) memerintahkan kepada Sya’ban (salah seorang temanku) untuk memanjat pohon yang paling tinggi di sekitar masjid untuk memantau apa yang sebenarnya terjadi.
Sesaat ketika Sya’ban belum lagi sampai di pucuk pohon, tiba-tiba ia turun dan berteriak ketakutan, “Ombak... Air bah datang... Air laut telah naik ke darat dan meluluh lantakkan rumah-rumah warga. Ayo cepat” Ucapnya kebingungan.
“Lari... Lari... Lari semua ke atas, ke bukit yang lebih tinggi”, Kata Usman, kemudian beliau berlari ke masjid Lamcrueng, yang ada di perumahan dekat podok. Disambarnya microfon yang ada di ruang takmir dan beliau menghimbau kepada seluruh warga kampung Nusa agar segera lari ke gunung atau bukit yang lebih tinggi karena air bah naik ke daratan. “Cepat lari... Cepat air bah datang! Tsunami... Tsunami... Ayo semuanya naik ke bukit.”
Aku tidak dapat menahan tangisan ketakutan, sembari berlari ke dalam asrama dengan perasaan yang campur aduk. Aku langsung membungkus pakaian dengan sarung dan membawa apa yang dapat aku bawa. Sejurus kemudian, aku berlari dan lari ke atas bukit, mencari tempat yang lebih tinggi. Tidak ada lagi rasa sakit ketika menginjak duri atau apapun, besarnya rasa takut telah mendorong aku dan warga lainnya untuk terus berlari dan berebut sampai di bukit yang tertinggi.
Tiba di atas bukit yang tidak terlalu jauh dari lokasi Pondok, aku duduk dan merenungi nasibku di perantauan tanpa orang tua, terlintas anganku bagaimana keadaan orang tua dan keluarga lainnya. Aku teringat keluarga pamanku yang tinggal di perumahan dekat pondok. Serentak aku langsung mencari pamanku, aku berharap mereka selamat dan sehat semua. Aku segera menyusuri setiap kerumunan orang, masih terasa getaran gempa susulan yang  datang silih berganti layaknya riak ombak di lautan. Alhamdulillah, aku menemukan pamanku dan keluarganya, mereka berkumpul dan selamat semua.
Ketika suasana dirasa sudah mulai tenang, ustadz Usman memberitahukan kepada masyarakat dan warga pondok bahwa tsunami telah berhenti. Sehingga bagi mereka yang ingin turun melihat keadaan rumahnya dipersilahkan namun tetap berhati-hati dan waspada kalau sewaktu-waktu air laut naik lagi. Ustadz Usman juga menawarkan kepada warga yang ingin menenangkan diri dapat tinggal di Pondok Pesantren Hidayatullah desa Nusa yang memang posisinya agak tinggi bila dibandingkan rumah-rumah warga desa Nusa.
Malam harinya, suasana mencekam karena gelap gulita. Hanya ada beberapa sinar senter warga dan lilin yang terlihat menyala. Listrik dari PLN mati total, sinyal alat komunikasi pun mengalami gangguan akibat musibah ini. Aku bersama teman-teman pondok berkumpul dan bersenda gurau tuk mencoba melupakan tragedi yang baru saja menimpa. Tiba-tiba gempa datang lagi, aku yang pada saat itu berada di lantai dua asrama berebutan tangga untuk turun asrama bersama teman-teman dan warga kampung yang menginap di asrama. Ternyata, gempa hanya sebentar dan hanya sekali saja, sehingga kami pun kembali ke naik ke asrama untuk beristirahat.
Keesokan hari, aku bersama teman-teman dan beberapa ustadz pergi menyusuri tebing gunung menuju ke pusat kota guna mencari salah satu pengurus pondok dan seorang santri yang saat kejadian kemarin mereka pergi ke pasar untuk belanja keperluan dapur umum. Di sepanjang jalan aku melihat ribuan mayat bergelimpangan, mayat-mayat itu kami hampiri dan kami periksa wajahnya, namun semuanya tidak dikenali. Karena hari sudah mulai kembali gelap, kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke Pondok.
Pasca tsunami itu, Pondok Pesantren Hidayatullah desa Nusa berubah menjadi posko pengungsian. Banyak bangunan dan tenda-tenda darurat didirikan di sekitar Pondok untuk para pengungsi yang sudah tidak punya apa-apa lagi. Hingga suatu hari aku mendengar bahwa ustadz pimpinan pondok Pesantren Hidayatullah wilayah NAD akan kembali ke kota Medan, maka aku pun memberanikan diri untuk meminta ikut ustadz tersebut ke Medan. Dengan harapan dapat melanjutkan sekolah di Pesantren Hidayatullah Medan, karena sekolahku yang dulu habis di hancurkan oleh tsunami.
 Akhirnya aku berangkat ke Medan dan tinggal di Pondok Hidayatullah Medan kurang lebih tiga bulan, kemudian aku dipindahkan ke Lhokseumawe. Setahun di Lhokseumawe, aku meminta diri untuk hijrah ke Pekanbaru. Dua tahun di SMP As-Sa’id Pondok Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, aku memilih Batam untuk melanjutkan pendidikanku. Akupun diterima bersekolah di SMA Integral Hidayatullah Batam sampai lulus. Saat menulis cerita ini, aku masih berstatus mahasiswa semester 5 STKIP Hidayatullah Batam. Demikian, sekilas pengalaman pribadiku yang aku rasa mengharu-biru, semoga dapat menjadi bahan renungan kita bersama akan takdir dan kuasa Allah.
Terima Kasih.
Written by : IWANS (iwans2894@gmail.com)
Penulis Cerita dari Serambi Mekah